Salah Teh, Salah Rasa, Tapi Tetap Nunggu Order

Table of Contents
Kemarin Semarang hujan seharian. Dari pagi sampai malam nggak ada jeda. Hari ini kebalikannya—panasnya kayak dibayar lunas.

Siang itu saya lagi di Rumah Sakit Gunung Sawo. Duduk di kursi tunggu, badan masih terasa lengket habis keliling dari satu ruangan ke ruangan lain. Nunggu bagian pengadaan farmasi—yang biasanya jawabannya antara “sebentar ya Mas” atau “nanti kami kabari.”

Karena panasnya luar biasa, saya kepikiran satu hal sederhana:
minum teh anget.

Biar badan agak rileks. Biar suasana sedikit lebih “adem” di dalam.

Saya pesen, “Mbak, teh anget satu ya.”

Datanglah gelasnya.

Saya pegang… kok dingin.

Saya minum dikit…
lah ini teh es.

Saya diem sebentar, terus senyum sendiri.

Niatnya nyari hangat di tengah panas, malah dikasih dingin. Ironis juga—kemarin kedinginan karena hujan, hari ini kepanasan, giliran pengen yang hangat… malah melenceng.

Tapi ya sudah, tetap saya minum.

Sambil duduk santai, saya lihat sekitar. Orang lalu-lalang, perawat sibuk, pasien keluar masuk. Saya masih di situ—nunggu kabar yang belum tentu datang hari ini.

HP saya buka, chat belum ada balasan.

Saya nyeruput lagi teh yang salah konsep tadi.

Di situ malah kepikiran…
hidup di lapangan ini mirip juga kayak minuman barusan.

Kita maunya A, yang datang B.
Kita maunya cepat, yang datang nunggu.
Kita maunya pasti, yang datang masih “diproses”.

Tapi ya tetap dijalani.

Tehnya tetap habis.
Tungguannya tetap diterusin.

Karena kadang bukan soal benar atau salah pesanan,
tapi soal tetap duduk tenang…
dan percaya, nanti ada waktunya semuanya jadi sesuai harapan.

Post a Comment