Salesman Jalanan
Seharian hujan di Semarang. Bukan hujan romantis yang cocok buat ngopi santai, tapi hujan yang bikin jas hujan kalah, sepatu nyerah, dan niat kerja diuji habis-habisan.
Pagi itu saya Nekat Jalan —sales alat kesehatan. Bukan jualan sembarangan, tapi mainnya ke rumah sakit. Targetnya jelas: bagian pengadaan, farmasi, yang kalau deal… lumayan. Tapi kalau zonk… ya, pulang bawa cerita.
“Jadwal hari ini apa aja?” tanya saya sambil persiapan naik motor.
saya ngecek HP. “Dua rumah sakit, satu Puskesmas. Fokusnya farmasi. Mau follow up PO yang katanya ‘tinggal tanda tangan’ sejak minggu lalu.”
Saya langsung ketawa kecil. “Kalimat paling berbahaya itu.”
Hujan makin deras.
Sampai di rumah sakit pertama, kami masuk dengan kondisi setengah basah. AC langsung menyambut dengan dingin yang menusuk tulang.
Aku langsung ke bagian farmasi.
“Pagi, Bu. Terkait penawaran kemarin, sudah sempat dicek?”
Ibu farmasi senyum profesional. “Oh iya Mas, sudah. Ini masih di pengadaan ya. Nanti saya bantu follow up.”
Kami keluar ruangan.
Saya bisik, “Artinya?”
Aku Mbatin santai, “Artinya dipindah ke level berikutnya: harapan.”
Lanjut ke bagian pengadaan.
“Selamat pagi, Pak. Terkait penawaran alat kemarin…”
Belum selesai, sudah dipotong halus.
“Oh iya Mas, ini masih proses. Kita lagi banyak agenda. Nanti ya.”
Keluar ruangan lagi.
Saya nengok. “Upgrade lagi?”
Aku Hanya ngangguk. “Sekarang statusnya: sabar premium.”
Aku ketawa pelan di lorong rumah sakit.
Keluar gedung, hujan makin nggak punya hati.
“Masih lanjut?” tanya saya.
“Sales itu nggak boleh kalah sama hujan,” . “Yang penting kelihatan usaha. Soal hasil… urusan nanti.”
Rumah sakit kedua, cerita hampir sama. Bedanya, kali ini dikasih harapan lebih detail.
“Ini tinggal ACC direktur, Mas.”
Saya langsung Agak lega.
Agak senyum sedikit. “Ini levelnya sudah tinggi… tapi seringnya juga lama.”
Jam makan siang, saya neduh di kantin rumah sakit. Sepatu sudah basah total, baju mulai dingin, order belum ada yang benar-benar jadi.
Saya mulai nyeletuk, “Jar, jujur… kowe iki capek ora sih?”
“Capek itu pasti. Tapi sales alat kesehatan itu beda.”
“Bedanya?”
“Kita bukan cuma jual barang… tapi jual sabar, jual follow up, sama jual muka.”
Saya ngakak.
Sore hari, aku coba follow up via chat. Salah satu kontak akhirnya bales.
“Mas, untuk yang kemarin jadi ya. Kirim revisi penawaran.”
Saya langsung semangat. “Nah ini!”
“Jangan senang dulu.”
“Lho kenapa?”
“Revisi itu artinya perjalanan masih panjang.”
Saya tepok jidat.
Hujan mulai reda. Saya jalan pulang dengan kondisi lelah, tapi ada sedikit harapan.
Di motor, saya tanya, “Kesimpulannya hari ini apa, yan?”
“Hari ini kita nggak closing… tapi kita nggak hilang dari ingatan.”
Saya diem sebentar, lalu senyum.
Karena ternyata, di balik hujan seharian itu
jadi sales alat kesehatan ke rumah sakit itu bukan soal cepat deal,
tapi soal konsisten muncul, sabar nunggu,
dan tetap senyum… walau jawaban yang didapat masih ‘nanti ya, Mas.’
Post a Comment