Ngopi neng Teras
Table of Contents
Embun belum pulang, sapu lidi masih nyender di pojokan, dan dispenser galon bunyinya kayak orang batuk nahan cicilan.
Aku duduk sendirian di kursi plastik warna hijau pudar.
Segelas kopi hitam mengepul tipis.
Di tangan kiri ada rokok murah merk HIT… rokok yang kalau dibeli sebungkus rasanya masih punya harga diri meski dompet lagi mode hemat nasional.
Baru juga nyeruput kopi pertama…
“Clek…”
Api korek nyala.
“Asli… nikmat paling sederhana itu bukan liburan ke Bali. Tapi kopi panas sama rokok yang nyambung pas pagi dingin begini,” gumamku sambil lihat motor-motor lewat kayak semut berangkat kerja.
Tiba-tiba Pak Darto datang.
Beliau duduk tanpa salam, langsung nyomot satu batang.
“Rokok apa iki?” tanyanya.
“HIT, Pak.”
Pak Darto manggut-manggut.
Diisep sekali… lalu batuk tiga kali.
“Pantes murah… asapnya kayak knalpot mesin pompa air.”
Aku ketawa.
Pak Darto ikut ketawa sambil mata berair.
Belum selesai obrolan, Mas Beni datang bawa map tebal sok sibuk.
“Wah lengkap iki… kopi, rokok, sama pengangguran terselubung.”
“Kita bukan pengangguran,” jawabku santai.
“Kita cuma lagi meeting dengan kehidupan.”
Semua ngakak.
Angin pagi lewat pelan.
Suasana kantor masih sepi.
Yang rajin belum datang, yang malas masih di jalan sambil update status: “Semangat kerja demi masa depan.”
Padahal abis itu mampir warung dulu beli gorengan utangan.
Aku nyeruput kopi lagi.
Kadang hidup memang sesederhana itu.
Tak harus selalu ngomong bisnis miliaran atau motivasi ala seminar.
Cukup kopi hangat, rokok murah, dan teman yang kalau ketawa nggak dibuat-buat.
Karena di teras kantor kecil seperti itulah…
banyak teori hidup lahir tanpa perlu podcast.
Post a Comment