Ngantuk Jam 1 Siang, Eh Malah Dipanggil Satu-Satu: Cerita Nyales di Meeting Sponsorship HUT RS Kariadi ke-101
Table of Contents
Namanya juga nyales alkes, pekerjaan saya bukan cuma keliling menawarkan produk, bikin penawaran, kirim barang, atau ngobrol dengan customer.
Kadang ada juga undangan meeting.
Dan kali ini saya mendapat undangan untuk ikut berpartisipasi dalam sponsorship HUT RS Kariadi ke-101 tahun 2026.
Lokasinya di sebuah ruangan yang nyaman. Suasananya resmi, peserta duduk rapi, layar besar terpampang di depan.
Waktu acaranya?
Jam 1 siang.
Nah...
Di sinilah tantangan sebenarnya dimulai. 😄
Jam 1 Siang: Waktu Keramat Para Pejuang Kantoran
Jam satu siang itu sebenarnya waktu yang cukup berbahaya.
Bukan karena acaranya.
Tapi karena tubuh biasanya sudah mulai mengirimkan sinyal:
"Mas... kayaknya kita butuh rebahan."
Perut sudah terisi makan siang.
Ruangan dingin.
Kursi empuk.
Suasana tenang.
Pembicara mulai berbicara dengan nada serius.
Mata pun mulai melakukan negosiasi dengan otak.
"Kita merem sebentar boleh nggak?"
Untungnya panitia menyediakan kopi.
Kopi pun menjadi senjata utama.
Bukan sekadar minuman.
Di acara seperti ini, kopi adalah alat pertahanan diri agar kelopak mata tidak melakukan kudeta. 😂
Saya seruput kopi sambil berusaha tetap fokus.
Dan ternyata perjuangan belum selesai.
Karena di depan sudah menunggu sesi yang membuat para peserta mulai memperhatikan satu sama lain.
Dipanggil Satu-Satu...
Ini bagian yang menarik.
Para calon sponsor dipanggil satu per satu.
Begitu nama disebut...
Langsung maju.
Rasanya seperti sedang dipanggil guru ke depan kelas.
Bedanya, kalau zaman sekolah ditanya:
"Sudah mengerjakan PR?"
Kalau di sini kurang lebih suasananya:
"Bisa berpartisipasi untuk sponsorship?"
🤣
Seketika semua mata tertuju kepada orang yang dipanggil.
Yang belum dipanggil duduk manis.
Yang sudah dipanggil maju.
Saya sendiri dalam hati berkata,
"Wah... ini kok rasanya seperti sedang ditodong secara elegan."
Tapi setelah dipikir-pikir, sebenarnya bukan todongan juga.
Ini lebih tepat disebut simbiosis mutualisme.
Rumah sakit punya kegiatan dan membutuhkan dukungan.
Kami sebagai perusahaan punya kesempatan untuk ikut berpartisipasi sekaligus menjaga hubungan baik dengan customer.
Jadi sama-sama mendapatkan manfaat.
Mereka terbantu.
Kami juga mendapatkan kesempatan untuk terus menjalin komunikasi dan hubungan profesional.
Namanya juga bisnis.
Kalau bisa sama-sama enak, kenapa harus saling ngotot? 😄
Di Sela Meeting, Tahu Bakso Menjadi Pahlawan
Nah...
Kalau ada kopi, ternyata belum cukup.
Panitia juga menyediakan camilan.
Dan mata saya langsung menemukan salah satu makanan favorit:
TAHU BAKSO.
Ini bahaya.
Karena tahu bakso punya kemampuan khusus.
Ketika sedang serius mendengarkan presentasi, tiba-tiba tangan bisa bergerak sendiri.
Satu tahu hilang.
Lalu satu lagi.
Lalu muncul pertanyaan:
"Kok tinggal sedikit?"
Padahal yang makan ya kita sendiri. 😂
Belum selesai dengan tahu bakso, ada juga serabi Solo.
Waduh...
Meeting sponsorship berubah menjadi kombinasi antara urusan bisnis dan wisata kuliner mini.
Kopi untuk melawan kantuk.
Tahu bakso untuk menjaga mood.
Serabi Solo untuk memastikan kita tetap betah sampai acara selesai.
Strategi panitia cukup cerdas.
Kalau peserta mulai ngantuk, kasih kopi.
Kalau mulai lapar, kasih camilan.
Kalau masih ngantuk juga...
Ya tinggal dipanggil satu-satu.
Dijamin langsung melek! 🤣
Menjadi Sales Itu Bukan Sekadar Menjual
Dari kegiatan seperti ini saya semakin sadar bahwa pekerjaan sebagai sales bukan hanya soal menjual produk.
Ada hubungan yang harus dijaga.
Ada komunikasi yang harus dibangun.
Ada kepercayaan yang harus dirawat.
Apalagi ketika kita berhubungan dengan institusi kesehatan seperti rumah sakit.
Customer bukan sekadar nama yang tercatat di daftar pelanggan.
Di balik nama sebuah rumah sakit ada banyak orang.
Ada tim pengadaan, tenaga kesehatan, bagian administrasi, manajemen, dan berbagai pihak lain yang semuanya punya kebutuhan dan tanggung jawab masing-masing.
Maka tugas seorang sales bukan sekadar berkata:
"Pak/Bu, ini produknya bagus, mau pesan berapa?"
Kalau cuma begitu, mungkin sales cukup mengandalkan katalog.
Tetapi kenyataannya tidak sesederhana itu.
Kita harus hadir.
Mendengar.
Berkomunikasi.
Menjaga hubungan.
Dan sesekali menghadiri meeting sponsorship sambil berusaha keras supaya tidak ketiduran. 😄
HUT ke-101, Sebuah Perjalanan Panjang
Melihat peringatan HUT RS Kariadi ke-101 di layar depan ruangan, saya juga sempat berpikir.
Seratus satu tahun bukan waktu yang sebentar.
Ada perjalanan panjang di balik sebuah institusi yang bisa bertahan selama itu.
Ada perubahan zaman.
Perubahan teknologi.
Perubahan kebutuhan pelayanan kesehatan.
Dan tentu saja ada banyak orang yang bekerja di belakangnya.
Bagi saya sebagai sales alkes, bisa ikut hadir dalam bagian kecil dari kegiatan seperti ini juga menjadi pengalaman tersendiri.
Tidak harus selalu menjadi orang yang berada di panggung.
Kadang cukup hadir.
Mendengarkan.
Berkenalan.
Menjalin komunikasi.
Karena hubungan bisnis yang baik sering kali tidak langsung menghasilkan transaksi hari itu juga.
Ada proses.
Ada kepercayaan.
Ada waktu.
Dan ada kopi. ☕😄
Pulang Membawa Cerita
Akhirnya meeting selesai.
Kopi sudah diminum.
Tahu bakso sudah berpindah alam.
Serabi Solo tinggal kenangan.
Dan rasa ngantuk yang tadi mengintai pun perlahan menghilang.
Saya pulang dengan satu kesimpulan sederhana:
Menjadi sales itu memang harus pandai membaca situasi.
Kapan waktunya menawarkan produk.
Kapan waktunya mendengarkan.
Kapan waktunya memperkenalkan diri.
Kapan waktunya membangun relasi.
Dan yang tidak kalah penting...
kapan waktunya mengambil tahu bakso sebelum habis. 😂
Karena dalam dunia sales, kesempatan itu harus ditangkap.
Termasuk kesempatan terakhir mengambil camilan.
Jangan sampai kalah cepat dengan peserta sebelah.
Itu bukan lagi kompetisi sponsorship.
Itu sudah masuk kompetisi bertahan hidup. 🤣
Hari itu saya kembali diingatkan bahwa pekerjaan membawa kita bertemu banyak orang dan banyak cerita.
Dari perjalanan mengantar barang, bertemu customer, menawarkan produk, sampai duduk di ruangan meeting seperti ini.
Semuanya punya cerita.
Dan bagi saya, inilah menariknya menjadi sales.
Kita bukan hanya menjual produk. Kita sedang membangun hubungan, membuka peluang, dan mengumpulkan cerita di sepanjang perjalanan.
Hari ini mungkin cuma meeting sponsorship.
Besok siapa tahu menjadi awal dari kerja sama yang lebih panjang.
Namanya juga ikhtiar.
Yang penting datang, kenalan, komunikasi, jaga hubungan... dan kalau ada tahu bakso, jangan malu mengambil satu. 😄
Post a Comment