Oleh-Oleh dari Mamak: Tahu Wonogiri, Rempah Jambu Mete, dan Kasih Ibu

Table of Contents
Setiap kali pulang dari kampung halaman di Wonogiri, rasanya selalu ada saja yang ikut saya bawa pulang ke Semarang.

Bukan cuma koper berisi pakaian kotor.

Biasanya ada bonus dari mamak.

Kali ini, mamak membawakan tahu khas Wonogiri, kulit melinjo, dan satu bahan makanan yang mungkin bagi orang lain biasa saja, tapi bagi saya selalu punya rasa nostalgia: rempah jambu mete.

Sampai Semarang, tahu dan kulit melinjo itu kemudian dimasak bojo.

Kalau di kampung biasanya tahu ya dimasak dengan cara yang sudah biasa kami kenal, kali ini bojo punya ide sendiri.

Dibikin sayur bersantan, dicampur krecek.

Lha iki piye toh...

Tahu Wonogiri ketemu santan, krecek ikut nimbrung.

Hasilnya?

Wah... mantaap!

Kadang memang begitu. Bahan sederhana, tapi kalau dimasak dengan hati, rasanya bisa naik kelas.

Tapi yang paling menarik justru rempah jambu mete yang dibawa mamak.

Bagi yang belum tahu, ini bukan rempah sembarangan.

Buah jambu mete yang masih separo matang itu diambil, kemudian dideplok dan diperas airnya. Setelah itu dimasak bersama kelapa parut, lalu dibentuk bulat-bulat, sekilas mirip bakso.

Begitu dimakan...

Wooo...

Rasanya khas sekali.

Kuliner seperti ini sekarang mungkin sudah jarang ditemukan. Bukan makanan yang bisa dengan mudah kita cari di warung-warung kota. Ada rasa kampung di situ. Ada rasa masa kecil. Ada sesuatu yang susah dijelaskan hanya dengan kata “enak”.

Dan entah kenapa, sambil makan saya tiba-tiba kepikiran mamak.

Begitulah orang tua.

Anaknya sudah gede.

Sudah punya pekerjaan.

Sudah berkeluarga.

Sudah punya anak.

Bahkan mungkin sudah bisa membeli hampir semua yang dibutuhkan sendiri.

Tapi di mata seorang ibu, kita tetap saja seperti anak kecil yang baru pulang sekolah.

“Digowo iki, mengko dimasak.”

“Ini bawa tahu sek.”

“Ini kulit melinjo, seneng to kowe?”

“Jambu mete iki yo digowo.”

Kadang kita bahkan tidak meminta.

Tidak bilang ingin.

Tidak pernah pesan.

Tapi ibu tetap saja memikirkan.

Seolah-olah sebelum kita datang, pikirannya sudah sibuk menyiapkan sesuatu untuk dibawa pulang.
Dan yang dibawa itu kadang bukan barang mahal.

Bisa tahu.

Bisa sayur.

Bisa sambal.

Bisa makanan yang mungkin kalau dihitung harganya tidak seberapa.

Tapi justru di situlah letak mahalnya.

Karena yang dibawa ibu sebenarnya bukan sekadar makanan.

Ada perhatian di dalamnya.

Ada kekhawatiran.

Ada rasa kangen.

Ada kalimat yang mungkin tidak pernah diucapkan:

“Mumpung anakku pulang, tak bawakke sesuatu.”

Semakin kita dewasa, semakin kita mengerti bahwa kasih sayang orang tua memang sering hadir dalam bentuk yang sederhana.

Dulu waktu kecil, mungkin kita tidak pernah berpikir tentang itu.

Ibu memasak, kita makan.

Ibu membawakan makanan, kita terima.

Ibu menyuruh membawa bekal, kadang malah kita tolak karena malu.

Sekarang, setelah punya keluarga sendiri, baru terasa...

Ternyata menjadi orang tua itu sepanjang hidup masih saja memikirkan anak.

Anaknya sudah punya anak pun, tetap dianggap belum benar-benar bisa menjaga diri.

Mungkin itulah kenapa seorang ibu tidak pernah benar-benar berhenti menjadi ibu.

Anak boleh pergi sejauh apa pun.

Boleh tinggal di kota mana pun.

Boleh punya rumah sendiri.

Boleh punya keluarga sendiri.

Tetap saja, ketika pulang ke rumah orang tua, kita kembali menjadi anak.

Dan mamak mungkin tidak pernah mengatakan,

“Jangan lupa makan.”

Tapi tahu Wonogiri, kulit melinjo, dan rempah jambu mete yang diselipkan ke bawaan kami sudah cukup menjadi kalimat yang panjang.

“Ibu masih mikirin kamu.”

Hari itu saya makan tahu Wonogiri dengan sayur santan dan krecek.

Saya makan rempah jambu mete yang rasanya membawa ingatan jauh ke kampung.

Tapi yang paling terasa bukan hanya lezatnya makanan.

Ada rasa haru yang pelan-pelan muncul.

Ternyata, sebesar apa pun kita sekarang, di mata ibu kita tetaplah anak yang perlu dibawakan oleh-oleh.

Dan mungkin benar...

Kasih ibu sepanjang masa.

Sedangkan kita?

Sering kali baru menyadarinya ketika rambut mulai memutih, anak-anak mulai besar, dan kita mulai tahu sendiri bagaimana rasanya mencintai seseorang tanpa pernah menghitung berapa banyak yang sudah diberikan.

Matur nuwun, Mak.

Tahu, kulit melinjo, rempah jambu mete itu mungkin akan habis dimakan.

Tapi rasa yang ikut dibawanya...

semoga jangan pernah habis. ❤️

Post a Comment