Sore Hari, Menunggu Istri Permak Celana dan Menikmati Ramainya Jalanan
Ada momen dalam hidup yang kelihatannya sederhana, bahkan nyaris nggak penting.
Misalnya sore ini.
Saya sedang menunggu istri yang sedang permak jahit celana. Sementara pekerjaan utama saya sebagai suami yang baik adalah... menunggu. 😄
Tidak ada rapat. Tidak ada presentasi. Tidak ada target penjualan.
Cuma duduk, melihat jalan, dan sesekali mengecek waktu.
Tapi justru dari kegiatan sesederhana itu, mata saya malah menemukan banyak cerita.
Di depan sana ada toko buah. Lapaknya ramai dengan berbagai macam buah yang dipajang rapi. Ada yang sedang memilih, ada yang bertanya harga, ada yang langsung tunjuk lalu bayar.
Sementara di jalan, suasana sore mulai berubah.
Orang-orang pulang kerja.
Motor mulai ramai. Mobil berjalan beriringan. Ada yang pulang dengan wajah lelah, ada yang masih sempat mampir membeli kebutuhan rumah, dan mungkin ada juga yang pikirannya sudah melayang ke menu makan malam.
Sore hari memang punya suasana sendiri.
Kota seperti sedang menarik napas panjang setelah seharian bekerja.
Yang berangkat pagi mulai kembali.
Yang jualan mulai menghitung hasil dagangan.
Yang bekerja di kantor mulai melepas atribut seriusnya.
Dan yang seperti saya?
Menunggu istri permak celana.
Sebuah pekerjaan sederhana, tetapi membutuhkan kesabaran tingkat nasional. 😂
Menunggu Itu Ternyata Bisa Jadi Hiburan
Biasanya kalau menunggu, tangan langsung mencari HP.
Buka WhatsApp.
Scroll Facebook.
Lihat video.
Scroll lagi.
Tahu-tahu istri keluar sambil berkata,
"Sudah?"
Padahal yang ditunggu saya.
Tapi sore ini saya mencoba sedikit berbeda. HP saya pegang, tetapi mata lebih sering melihat jalan.
Ternyata menarik juga.
Kita sering terlalu sibuk mengejar sesuatu sampai lupa memperhatikan kehidupan yang berjalan tepat di depan mata.
Seorang bapak pulang membawa barang.
Seorang ibu berhenti membeli buah.
Anak sekolah melintas.
Pengendara motor saling menyalip.
Pedagang tetap berdiri di tempatnya.
Semuanya punya tujuan.
Semuanya sedang menjalani cerita masing-masing.
Dan lucunya, kita sering mengira hidup kita yang paling sibuk.
Padahal kalau dilihat dari jauh, semua orang sedang berjuang dengan versinya masing-masing.
Toko Buah di Tengah Kesibukan
Toko buah yang saya lihat sore itu juga menarik perhatian.
Di tengah jalan yang ramai, buah-buahan justru terlihat seperti pengingat sederhana bahwa hidup tidak melulu soal pekerjaan.
Ada buah yang manis.
Ada yang masam.
Ada yang harus menunggu matang.
Mirip kehidupan.
Kadang manisnya datang belakangan.
Kadang baru dicoba sedikit sudah bikin muka mengernyit. 😄
Tapi semuanya punya waktunya sendiri.
Mungkin itulah kenapa toko buah selalu menarik.
Kita datang membawa uang, memilih buah yang menurut kita paling bagus, lalu berharap rasanya sesuai dengan penampilannya.
Kalau ternyata asem?
Ya sudah.
Dibuat jus.
Begitulah hidup.
Kalau rencana pertama nggak sesuai harapan, bukan berarti semuanya selesai. Kadang tinggal ganti cara menikmatinya.
Sore Hari Mengajarkan Satu Hal
Sore mengajarkan bahwa setiap hari pasti ada waktunya untuk berhenti sebentar.
Bukan berhenti berjuang.
Tetapi berhenti sejenak untuk melihat perjalanan yang sudah kita lewati.
Pagi tadi kita berangkat dengan berbagai urusan.
Siang sibuk mengejar pekerjaan.
Sore mulai pulang.
Besok pagi diulang lagi.
Begitu terus.
Kadang kita terlalu fokus mengejar penghasilan sampai lupa menikmati hal-hal kecil yang sebenarnya tidak membutuhkan biaya.
Melihat jalanan sore.
Memandang langit.
Ngobrol dengan pasangan.
Menunggu istri menyelesaikan permak celana.
Dan ternyata... yang terakhir ini juga bisa menjadi latihan kesabaran. 😂
Pulang Bukan Sekadar Pulang
Ketika orang-orang memenuhi jalan sore itu, saya jadi berpikir.
Mereka bukan sekadar pulang dari tempat kerja.
Mereka sedang kembali kepada orang-orang yang menunggu di rumah.
Ada yang pulang membawa uang.
Ada yang membawa lelah.
Ada yang membawa cerita.
Ada yang mungkin pulang hanya membawa harapan bahwa besok bisa lebih baik.
Dan mungkin, rumah bukan selalu tempat paling mewah.
Rumah adalah tempat di mana kita tidak perlu berpura-pura kuat.
Tempat kita bisa berkata,
"Hari ini capek."
Lalu ada yang menjawab,
"Ya sudah, istirahat."
Sederhana.
Tetapi kadang justru itulah kemewahan yang sebenarnya.
Akhirnya, Celana Selesai Juga
Setelah cukup lama menikmati suasana sore, akhirnya istri muncul.
Celana selesai dipermak.
Saya pun siap melanjutkan perjalanan.
Ternyata sore yang awalnya cuma kegiatan "mengantar istri permak celana" berubah menjadi momen kecil untuk melihat kehidupan.
Kadang kita memang tidak perlu pergi jauh untuk menemukan cerita.
Cukup duduk di pinggir jalan.
Lihat orang-orang pulang kerja.
Lihat pedagang mencari rezeki.
Lihat toko buah yang tetap ramai.
Dan lihat pasangan kita yang akhirnya keluar membawa celana hasil permak.
Hidup ternyata sesederhana itu.
Kita bekerja.
Kita lelah.
Kita menunggu.
Kita pulang.
Besok diulang lagi.
Yang penting, jangan lupa bersyukur di sela-selanya.
Dan satu lagi...
Kalau istri bilang, "Sebentar saja," jangan buru-buru percaya.
Sebagai suami, kita harus memahami bahwa kata sebentar dalam kamus rumah tangga kadang punya satuan waktu sendiri.
Bisa lima menit.
Bisa setengah jam.
Bisa juga... sampai kita hafal semua kendaraan yang lewat di depan mata. 😂
Sore pun berlalu.
Jalanan tetap ramai.
Orang-orang terus pulang.
Dan saya pulang membawa satu pelajaran kecil:
Kadang kebahagiaan bukan soal pergi ke tempat yang jauh. Kadang cukup duduk, menunggu orang yang kita sayangi, lalu menyadari bahwa hidup ternyata sedang berjalan dengan indah di depan mata.
Post a Comment