Sore Kamis di Johar: Piala, Kauman, dan Suara Sholawat
Table of Contents
Sore Kamis kemarin, sebenarnya saya tidak punya agenda yang neko-neko.
Cuma mengantar istri.
Katanya mau mengambil piala untuk kegiatan sekolahane.
Ya sudah, sebagai suami yang baik, tugas saya jelas: antar, tunggu, lalu pulang. Tidak ada yang perlu dipikirkan.
Tapi namanya juga keluar rumah, kadang perjalanan sederhana malah membawa kita ke cerita yang tidak direncanakan.
Sore itu kami masuk kawasan Johar.
Saya selalu suka lewat kawasan ini. Ada sesuatu yang berbeda dibanding kawasan-kawasan baru di Semarang.
Bangunan-bangunan tua masih berdiri berdampingan dengan toko-toko yang kelihatannya sudah puluhan tahun berjualan. Jalanannya ramai, sempit, penuh motor, mobil, orang belanja, pedagang, dan tentu saja... kabel listrik yang jumlahnya kadang lebih banyak daripada pohon.
Johar itu salah satu kawasan tua di Kota Semarang.
Dekat dengan Masjid Kauman, dan sejak dulu menjadi kawasan perdagangan yang ramai. Banyak toko dan usaha milik warga keturunan Arab juga tumbuh di sekitar kawasan ini.
Kalau mencari kebutuhan, rasanya hampir semua ada.
Mau kain, ada.
Perlengkapan rumah, ada.
Makanan, ada.
Barang yang sebenarnya tidak sedang dicari pun kadang ada.
Masalahnya tinggal satu:
mau beli atau tidak.
Karena kalau sudah masuk kawasan seperti Johar, niat awal bisa berubah.
Istri: “Kita cuma ambil piala.”
Saya: “Iya.”
Lima menit kemudian:
“Eh, itu jual apa?”
Lalu jalan lagi.
“Eh, lihat toko itu.”
Lalu berhenti lagi.
Begitulah kalau perjalanan bersama istri. Agenda awal sering hanya menjadi pembuka.
Tapi sore itu ada satu hal yang membuat saya lebih menikmati perjalanan.
Dari arah Masjid Kauman terdengar suara sholawatan.
Suara lantunan sholawat terdengar cukup jelas di sela-sela suara kendaraan dan riuhnya aktivitas pertokoan.
Saya tidak tahu persis acaranya apa.
Kemungkinan sedang ada kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW atau acara keagamaan lainnya.
Tapi suasananya terasa menarik.
Di satu sisi, Johar tetap seperti biasanya.
Orang sibuk berdagang.
Orang sibuk mencari kebutuhan.
Motor lalu-lalang.
Mobil pelan-pelan mencari jalan.
Pedagang menawarkan dagangan.
Pembeli menawar harga.
Sementara dari masjid, terdengar suara sholawat.
Entah kenapa saya merasa pemandangan seperti ini adalah salah satu wajah Semarang yang sering kita lewatkan.
Kota ini bukan cuma gedung tinggi, jalan besar, pusat perbelanjaan, dan tempat-tempat baru.
Ada kawasan-kawasan tua yang menyimpan cerita panjang.
Ada pasar.
Ada masjid.
Ada pertokoan.
Ada komunitas.
Ada orang-orang yang sudah puluhan tahun mencari nafkah di tempat yang sama.
Dan semuanya berjalan berdampingan.
Saya kemudian kepikiran satu hal.
Kadang kita terlalu sibuk mencari tempat baru untuk menemukan sesuatu yang menarik, sampai lupa bahwa tempat lama di sekitar kita sebenarnya menyimpan banyak cerita.
Johar misalnya.
Kita mungkin melewatinya berkali-kali.
Tapi kalau sekali saja kita pelankan perjalanan, melihat kanan-kiri, memperhatikan bangunan, toko, orang-orang, bahkan mendengarkan suara dari masjid...
ternyata banyak cerita yang bisa ditemukan.
Sore itu saya sebenarnya cuma mengantar istri mengambil piala.
Tidak ada rencana jalan-jalan.
Tidak ada agenda menikmati suasana kota.
Tapi akhirnya malah mendapatkan satu sore kecil yang cukup berkesan.
Piala dapat.
Istri senang.
Saya dapat cerita.
Dan bonusnya, dapat suasana sore Johar dengan suara sholawat dari Masjid Kauman.
Kadang memang begitu.
Kita tidak perlu pergi jauh untuk menemukan sesuatu yang berkesan.
Cukup pelankan sedikit perjalanan.
Lihat sekitar.
Dengarkan.
Dan sesekali biarkan kota bercerita kepada kita.
Karena setiap sudut kota tua, selalu punya cerita yang belum tentu selesai kita baca.
Post a Comment